My Life Choice

Hai Hai ~

Aku kembali dengan prolog.

Simak baik-baik guys.



Prolog

“KAU PEMBOHONG!!!” teriak Vania. “Kau tahu aku tak suka dibohongi, Regan.” Wanita itu terjatuh menangisi kebodohannya yang telah mempercayai kekasih hatinya.
“Maaf Vania. Maaf.”
“Apa dengan maafmu itu bisa memperbaiki hatiku yang sudah kau hancurkan? TIDAK!!” Vania berdiri lalu mendorong dada bidang lelaki di hadapannya.
PLAK
Vania menampar Regan dengan keras. Wanita itu menggertakkan giginya menahan amarah.
“Kakak!!!” teriak seorang wanita lagi dari dalam, lalu berlari memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.
“Vaniska, masuk!!” perintah Vania dengan tegas.
Vaniska menggeleng. “Kakak, aku tahu kami bersalah. Kami telah membohongimu dengan hubungan terlarang ini, tapi aku mohon tolong maafkan kami dan biarkan aku bersama Regan. Aku mencintainya, Kak.” Mohon Vaniska bersujud di depan kakaknya.
TOK TOK TOK
“Eh? Bayi siapa disini?” Vania menurunkan badannya berjongkok pada keranjang bayi di hadapannya kini. Seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan menggeliat tersenyum melihatnya. Mata binar bayi itu membuat hatinya berdesir.
“Sayang, ada siapa?” seorang perempuan paruh baya keluar melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mereka. “Eh? Bayi siapa ini?” tanyanya hampir sama dengan putri tercintanya.
“Entahlah, Mom. Aku menemukannya di depan rumah kita.” Vania pun menggendong bayi mungil itu dengan hati-hati. “Orangtua mana yang tega melantarkan anak manis sepertinya,” gumam Vania mencolek pipi mungil itu membuat sang bayi tertawa.
“Sepertinya dia menyukaimu, Vania.” Perempuan paruh baya itu tersenyum melihat bayi mungil dihadapannya ini. “Dia terlihat mirip dengan Vaniska.”
Seorang anak berumur lima tahun berlari menuju taman di dekat tempat tinggal mereka. Ia berlari kencang dengan tawa yang riang.
“Tania, mainnya jangan jauh-jauh sayang.”
“Iya, Bunda.” Ia terlihat sudah biasa bermain disini ditemani dengan Bunda kesayangannya.
BRUK
“Aw,” ringisnya terjatuh setelah menabrak tubuh besar di depannya.
“Kau baik-baik saja, bocah kecil?” suara baritone menyapu pendengarannya membuat gadis cilik itu mendongak menatap penuh minat pada pria di hadapannya.
“Ayah.”
BUGH
“Pukul terus dia sampai dia mau berbicara.” Suara tegas dan wibawa itu tak ayal membuat para bawahannya menuruti perintah yang ia ucapkan.
“Aa – ampun, tuan..”
BUGH
“Aaarrgh.” Tulang kering pria paruh baya itu di tendang dengan keras membuatnya menjerit kesakitan, belum lagi kepala yang terasa pusing karena pukulan balok.
“Katakan dimana kau menyembunyikan anakku?!” teriak pria itu menggertakkan giginya. Ia berdiri dari tempat kebesarannya lalu mencengkram rahang pria paruh baya yang sudah tak bisa melawan lagi.
“Aa – aku – ti – ddak akan meng – atakannya.”
PLAK
“Dasar pria tua sialan. Bunuh dia!!”
“Maafkan aku, Vaniska”
“......”
“Jangan. Aku mohon jangan pernah kembali lagi.”
“......”
“Aku mencintaimu, Vania.”
“......”
“Aku membencimu, Regan.”
“......”
“Kau milikku. Tak akan ada siapapun yang boleh menyentuhmu, kecuali aku.”
“......”
“Kenapa? Kenapa harus aku?”
“......”
“Dia anakku. Bukan anakmu. Walau Tania tak pernah terlahir dari rahimku, tapi aku yang membesarkannya. Aku Bundanya!!!”
“......”
“Lama tak berjumpa, sayang.”
“......”
“Kau brengsek.”








T B C
Tinggalkan jejak readers sayang (Luv)


Komentar